Rindu, lagi.

Ini adalah rentang waktu terlama—hari – hari yang ku lewati tanpamu—selama kita saling mengenal. Bukan aku menyerah, aku hanya berpasrah. Agaknya, aku yang cengeng ini mulai tak tahan lagi menahan air mata yang berdesak, berhamburan, meski tak sedikitpun melegakan. Ah.. Maaf, aku terlalu merindukanmu.

Disela pengaduanku pada-Nya, terkadang aku merasa takut. Takut Allah marah karena keluh kesahku yang lagi-lagi tentang kamu. Semoga Allah mengerti. Kepada siapa lagi aku bercerita tentangmu selain kepada-Nya? Ya.. ku harap Allah mengerti, karena rasaku padamu bukan untuk menduakan cintaku pada-Nya.

Apa kau mengingatku, apa kau juga merindukanku, bagaimana rasamu, aku tak perlu tau itu. Karena rasaku tak butuh rasamu untuk menjadi rasaku.

Apapun itu, aku tetap menyayangi dan merindukanmu dalam diam dan doaku. Selama Allah tak membolak balikkan hatiku.

Aku sangat berterimakasih, untuk jarak yang kau cipta dalam ketaatan ini. Terimakasih telah memuliakanku dengan cara seperti ini. Terimakasih.

0 Komentar