"Tidak apa-apa. Bersikaplah sewajarnya," ucapnya. Aku tersenyum. Ia pun demikian. Tatapnya mengenali lekuk senyumku yang tak biasa. Sesak itu terlalu nyata untuk ia rasakan dalam gelagat tubuhku yang tak nyaman.

"Rupanya benar, keikhlasan tak hanya datang dan menguji kita dalam satu peristiwa, ya." Lanjutnya. "Bahkan, saat kita telah berhasil menghidangkan secangkir tenang dalam jamuan kehadirannya, ia akan pergi untuk kembali, lagi dan lagi, dengan bentuk dan rupa yang tak kita sangka-sangka."

"Iya, kau benar. Tapi, pasti kau juga tak habis pikir, bukan? Bisa-bisanya sekarang ia datang begitu saja seolah tak terjadi apa-apa? Dimana rasa bersalahnya?" Tepisku mencari pembelaan.

"Hehee, benar. Aku juga muak mengingat betapa dulu, ia begitu mengecewakan. Tapi..bagaimana jika ternyata justru kitalah yang membutuhkan kehadirannya?" Ia melempar tanya. Kedua alisnya terangkat, seolah tak mau turun, menunggu kalimat pertama yang keluar dari mulutku.

"Maksudmu?" Kernyit dahiku membentuk dua lekukan diantara kedua alis tipisku.

"Mungkin, tanpa kita sadari, kitalah yang memerlukan kehadirannya untuk tau sejauh mana kita telah mengikhlaskannya. Untuk menguji seberapa kokoh, teguh yang telah kita tegakkan. Sebagai pengingat agar kita tak melakukan hal menyakitkan serupa ke lain orang."

"Tapi, sudah berulangkali ia membuatku kecewa. Tak bolehkah sekali saja aku bersikap tak baik padanya?" 

"Boleh, jika kau ingin menyesal. Sebab artinya, kau tak jauh berbeda dengannya."

"Jadi, aku harus tetap bersikap baik?"

"Iya, Hati. Itulah salah satu bukti bahwa kau telah bersungguh-sungguh mengikhlaskan dan memaafkan kesalahannya." Aku terdiam. Mencerna kata-kata pikiran yang menamparku habis-habisan.

"Aku tidak ingin terjebak dalam jeruji kekecewaan." aku merunduk.

"Kalau begitu, mari melangkah bersama keluar dari jeruji ini dengan keikhlasan. Hanya amarahlah yang mengunci langkah dan menutupi pandangan kita." Ujar pikiran.

"Kau benar, Pikiran. Aahh, betapa ruginya aku menyesali kehadirannya. Padahal, jika ku mau, aku bisa belajar banyak dari mereka yang mengecewakan."

"Selamat mendewasa, Hati. Jangan lelah untuk terus berbenah, ya!"

"Terimakasih, Pikiran. Terus dampingi aku, ya!"

"Iya, bukankah kita berada dalam satu tubuh? sudah sepatutnya kita saling mengingatkan."

"Huuu.. Iya, iya. Sok bijak mulu. Hey, sudah malam. Ayo, tidur!" seruku pada pikiran. "Maaf ya sudah mengganggu waktu tidurmu. Jangan lupa dzikir dulu, ya."

"Kamu tuh, banyak istigfar! Ngedumel mulu kerjaannya."

"Berisik!" 

Kami pun terbenam dalam senyum yang mengakhiri pertengkaran kami malam itu. Rupanya benar, kedamaian hanya milik mereka yang pandai bersyukur. Mereka yang mau membuka mata hati dan pikiran mereka atas segala karunia berupa nikmat dan ujian sebagai bentuk kasih sayang-Nya yang tak terukur. 

Sungguh tak merugi mereka yang terus bersabar dan membenahi diri. Sebab bukan ridha manusia lagi yang mereka nanti. Bukankah disanalah kelak kita temukan hakikat dari hidup ini?