Terbatas


Jika manusia diberi tombol untuk memutar balikkan waktu, berapa sering kita akan menggunakannya? Berapa banyak waktu yang kelak akan kita sia-siakan? sebab kita dapat dengan leluasa kembali pada masa dimana kita lupa dan terlena, lantas berdalih akan memperbaikinya?

Jika manusia memiliki tombol undo, berapa lama waktu yang dibutuhkan untuk membuat tombol itu rusak saking seringnya kita gunakan? Bukankah menyenangkan sekaligus mengerikan? Menyenangkan sebab kita bisa meng-undo setiap kesalahan yang kita perbuat. Mengerikan sebab alih-alih memulai kembali hal tersebut dengan benar, jangan-jangan kita terhasut melakukan kesalahan besar lainnya yang berhias kenikmatan sementara, sambil menggumam, "Ah.. Nanti juga bisa diundo lagi kapan saja."

Jika manusia diberi kemampuan untuk mengatur kemana hatinya terpaut, niscaya manusia hanya akan menjatuhkan hatinya pada seseorang yang menyimpan cinta untuknya pula. Jika ia mencintai seseorang yang tidak mencintainya, ia akan segera menyeting hatinya untuk berhenti jatuh cinta. Semudah menekan saklar lampu, semudah itu memadamkan rasa yang mulai menggebu. Agar tiada lagi kisah tentang hati yang patah. Agar tiada lagi kisah tentang tangan yang menepuk-nepuk udara. 

Padahal, setidaknya, barang sekali, kita perlu merasakan patah hati. Agar kita tak sembarang menaruh tambatkan hati ini. Agar kita belajar arti tulus mencintai. Agar kita mengerti hakikat dari cinta itu sendiri. Agar kita terlatih memapah diri dari bengisnya sayatan pengasah hidup ini.

Kita perlu rasa kecewa agar belajar berhati-hati menaruh janji. Kita perlu merasa sepi agar tau bahwa hanya Allahlah yang tak kan meninggalkan kita sendiri. Kita tak dapat memutar waktu kembali agar kita menghargai setiap detik yang kita lewati. Kita perlu rasa menyesal sebagai pengingat agar kita tak mengulang kesalahan yang sama kembali.

Dibalik keterbatasan yang kita miliki, ada yang ke Maha Kuasaan-Nya senantiasa bermurah hati tanpa pamrih. Ia yang Maha Mengetahui, sedang kita tidak mengetahui. Maka, tidakkah engkau merasa tenang, Wahai Hati?

Sungguh, apa yang menurut kita baik, belum tentu itu baik. Dan apa-apa yang kita benci, belum tentu itu tidak baik. Maka, tetaplah menjadi baik. Berserahlah pada Ia yang seluruh isi jagat raya ini tunduk kepada-Nya tanpa terkecuali.

Duhai,
betapa kerdil diri ini.



Oktober ke-21, 2020.

0 Komentar