Hujan Tadi Malam




Menghidup senyap
merekat harap
relung-relung hati
yang berkarat.


Dibawah sisa hujan tadi malam, ku genggam payung darimu yang mulai usang. Sudah lama aroma hujan ini tak bertandang. Kutenun langkahku lambat, barangkali kutemukan dirimu dibalik awan. Sesekali terdengar dercak air lembut, mengecup bumi yang tengah tertidur. Aku terseyum. Dibawah payung ini, tubuhku berteduh. Dibalik senyum ini, rinduku gemuruh. 

Dulu, kau tak lebih dari manusia aneh yang memanggil namaku dari pinggir lapangan. Meski ku akui, senyummu begitu hangat. Entah mengapa, dalam keterasingan yang menjagat, kau terasa begitu dekat. Menjelma luap dalam derap waktu yang melambat. Melebur segala pekat. Menebur sejumput  pikat. Melecut denyut kemati surian rasa yang melarat.

"Apa kabar? Kau baik-baik saja, kan?" Tanyaku pada daun-daun basah. 

Mereka diam. Melambai layu seolah mengisyaratkan kata. Tentang pesan yang dibawa angin di gelapnya malam. Suara itu terdengar, "berdoalah, Sayang. Kelak rindu ini akan bertemu pada titik peraduan. Kelak keterpisahan akan menjadi cerita saat tangan kita saling bergenggaman. Percayalah, Sayang, hati tak akan pernah salah memilih rumah tempatnya pulang. Jaga dirimu baik-baik disana. Aku akan selalu mendekapmu dalam doa."

Aku terpaku, ada hujan dipipiku. Dimana ku harus berteduh?

Dalam kealfaan, 
aku berserah.

Sungguh,
keinginan bersama, 
tak pernah bisa berdiri
sendirian.




Juli, 2020.

0 Komentar